Skip to main

Benarkah Penggunaan Kipas Angin Sebabkan Penyakit Bell's Palsy?

Pernahkah kamu mendengar berita atau pernyataan yang mengungkapkan bahwa efek tidur terlalu lama pakai kipas angin dapat menyebabkan bell's palsy?

Bell's palsy adalah suatu kondisi yang menyebabkan lumpuhnya sebagian atau seluruh otot pada salah satu sisi wajah.

Kelumpuhan ini terjadi akibat peradangan atau pembengkakan pada saraf wajah (saraf ketujuh atau saraf fasialis). Saraf fasialis ini berfungsi mengontrol ekspresi dan indra perasa di kulit wajah.

Lantas benarkah efek kipas angin bisa sebabkan bell’s palsy? Yuk simak fakta selengkapnya!

Gejala Bell's Palsy

Gejala utama bell's palsy adalah kelumpuhan otot wajah yang biasanya terjadi pada satu sisi wajah, sehingga membuat separuh wajah tampak terkulai, baik itu dahi, alis, mata dan kelopak mata, hingga sudut mulut.

Gejala Bell's palsy cenderung muncul secara tiba-tiba dan mencapai puncak keparahannya dalam waktu 48 hingga 72 jam. Berikut beberapa gejala umum Bell's palsy:

  • Kelumpuhan atau kelemahan pada satu sisi wajah, sehingga membuat penderitanya kesulitan membuat ekspresi wajah, seperti tersenyum, atau menggerakkan kening
  • Mata dan kelopak mata sulit ditutup pada sisi wajah yang terkena
  • Nyeri pada telinga atau belakang rahang
  • Sakit kepala
  • Kesulitan berbicara dengan jelas
  • Kesulitan makan dan minum
  • Indra pengecap terganggu atau kehilangan rasa
  • Peningkatan jumlah air mata yang keluar dari sisi mata yang terkena (mata berair)
  • Peningkatan jumlah air liur (ngiler)
  • Peningkatan sensitivitas terhadap suara di sisi yang terkena

Mitos atau Fakta, Bell’s Palsy Terjadi karena Kipas Angin?

Jika kamu termasuk orang yang memiliki kebiasaan tidur pakai kipas angin, berhati-hatilah karena efek tidur dengan kipas angin bisa sangat berbahaya.

Melansir dari Electrolux, menurut Public Health England, sebagian besar kematian akibat penggunaan kipas angin saat tidur disebabkan oleh paparan angin langsung dari kipas angin (terutama saat mengenai wajah), sehingga menyebabkan paru-paru tidak mendapat pasokan oksigen yang cukup.

Tak hanya itu, kebiasaan tidur dengan kipas angin juga dapat meningkatkan risiko bell's palsy.

Lalu, bagaimana kipas angin bisa dikaitkan dengan Bell's Palsy? Meskipun bukan penyebab langsung, udara dingin dari kipas angin diduga sebagai faktor pemicu bell’s palsy.

dr. Bambang Siswanto, Sp.S, dokter spesialis saraf Klinik Neuro Care by Klinik Pintar mengungkapkan bahwa udara dingin dari kipas maupun AC bisa menjadi penyebab bell’s palsy.

Hal ini karena udara dingin dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh dan memicu peradangan, sehingga virus lebih mudah menyerang saraf wajah.

Melansir dari Cleveland Clinic, para ilmuwan telah menemukan bahwa beberapa infeksi virus dapat memicu peradangan pada saraf kranial ketujuh dan menyebabkan bell's palsy.

Sejumlah virus tersebut di antaranya, herpes simplex 1, virus Varicella-zoster, dan virus Epstein-Barr.

Meskipun kipas angin tidak secara langsung menyebabkan bell's palsy, namun penting untuk menggunakan kipas angin dalam waktu yang wajar dan pastikan kipas angin tidak langsung mengarah ke badan atau wajah dalam waktu lama agar terhindar dari infeksi virus.

Terapi Bell’s Palsy

Apabila kamu mengalami gejala seperti bell’s palsy, kamu bisa segera melakukan konsultasi ke Klinik Spesialis Saraf, Neuro Care by Klinik Pintar.

Dokter spesialis saraf di Klinik Neuro Care by Klinik Pintar nantinya akan mendiagnosa dengan pasti apakah masalah yang kamu alami benar penyakit bell’s palsy atau bukan.

Apabila didiagnosis bell’s palsy, dokter saraf dapat memberikan rekomendasi terapi bell’s palsy untuk meredakan gejala, seperti:

1. Penggunaan Obat-obatan

Untuk mengurangi gejalanya, kamu bisa mengonsumsi obat bell’s palsy kortikosteroid yang diresepkan seperti prednison untuk mengurangi peradangan pada saraf yang terkena. Obat ini paling efektif jika diminum segera setelah timbulnya gejala.

Selain itu, kamu juga mengonsumsi obat antivirus seperti asiklovir (Zovirax) dan valacyclovir (Valtrex) untuk mempercepat pemulihan.

Biasanya dokter saraf hanya meresepkan obat antivirus untuk bell's palsy yang parah. Terlebih, terapi bell’s palsy dengan obat ini bekerja lebih maksimal jika digabungkan dengan kortikosteroid oral.

2. Vitamin Neurotropik

Vitamin B kompleks, terutama B12, dipercaya dapat membantu regenerasi saraf. Meskipun penelitian lebih lanjut diperlukan, beberapa dokter merekomendasikan suplemen vitamin B untuk mendukung pemulihan penyakit bell’s palsy.

3. Fisioterapi

Terapi bell’s palsy selanjutnya yang bisa kamu lakukan yaitu dengan fisioterapi. Fisioterapis dapat membantu melatih otot wajah yang terkena dan mencegah kekakuan.

Latihan wajah dan pijat lembut dalam sesi fisioterapi dapat meningkatkan aliran darah dan merangsang saraf.

4. Transcranial Magnetic Stimulation (TMS)

Transcranial Magnetic Stimulation (TMS) adalah alat yang bekerja untuk menstimulasi otak dan meningkatkan fungsi saraf. TMS juga dapat digunakan untuk terapi bell’s palsy.

5. Suntik Botox

Suntikan botox dapat membantu meredakan ketegangan pada otot wajah yang sehat di sisi yang berlawanan, sehingga wajah tampak lebih simetris.

Jika kamu mengalami gejala bell's palsy, seperti kelemahan otot wajah, kelopak mata turun, atau kesulitan berbicara, segera periksakan diri ke dokter spesialis saraf di Klinik Neuro Care by Klinik Pintar untuk diagnosis dan pengobatan yang tepat.

Penanganan dini dapat membantu pemulihan lebih cepat dan mencegah komplikasi.

Baca Juga:

Sumber:

Electrolux. Be Careful, Sleeping with a Fan on May Cause Death. 14 Mei 2020.

Empowher. How can using a fan while you sleep cause Bell's Palsy?.

Mayo Clinic. Bell's palsy.

Cleveland Clinic. Bell's palsy.

Hopkins Medicine. Bell's Palsy.

Jadwalkan Konsultasi di Klinik